Daftar isi

Di sekitar Ka'bah ada beberapa tempat yang disebut dalam riwayat sebagai tempat berdoa. Tidak ada yang wajib, dan tidak ada yang menjanjikan terkabulnya doa secara otomatis. Semuanya adalah wasilah, bukan jaminan.

Multazam

Multazam adalah bagian dinding Ka'bah antara Hajar Aswad dan pintu Ka'bah. Jamaah dianjurkan berdiri di sana, menempelkan dada, dan berdoa bila memungkinkan.

Karena letaknya di jalur tawaf, area ini hampir selalu padat. Bila tidak memungkinkan, cukup berdoa dari jarak beberapa meter. Memaksakan diri hingga berdesakan dapat menyakiti orang lain dan membatalkan keutamaan.

Hijr Ismail

Hijr Ismail adalah area setengah lingkaran di sisi barat laut Ka'bah. Dahulu area ini termasuk bagian bangunan Ka'bah. Karena itu, tawaf harus mengelilinginya dari luar, dan shalat di dalamnya memiliki keutamaan tersendiri menurut sebagian riwayat.

Jamaah sering berhenti di dinding Hijr untuk berdoa. Perhatikan arus tawaf; jangan berhenti tepat di jalur utama.

Maqam Ibrahim

Maqam Ibrahim adalah batu tempat Nabi Ibrahim berdiri saat membangun Ka'bah. Kini batu itu berada di dalam kaca, di dekat pintu Ka'bah.

Setelah tawaf, dianjurkan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim bila memungkinkan. Bila area penuh, shalat di tempat lain di dalam masjid tetap sah. Yang menjadi sunah adalah shalat dua rakaat setelah tawaf, bukan harus menempel di Maqam.

Rukun Yamani

Rukun Yamani adalah sudut Ka'bah di sisi barat daya. Jamaah dianjurkan menyentuhnya bila memungkinkan, tetapi tidak menciumnya. Antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad dianjurkan membaca doa yang diajarkan Nabi.

Air zamzam

Sumur zamzam berada di area masjid. Airnya tersedia di banyak titik minum, baik di lantai dasar maupun lantai atas. Tidak ada doa khusus yang wajib, tetapi berdoa setelah minum adalah kebiasaan yang baik.

Bawa botol kosong bila ingin mengisi. Hindari mengisi terlalu banyak sekaligus karena berat dan mengganggu jamaah lain.

Adab berdoa di tempat ramai

  • Tidak berdesakan dan tidak menarik tangan orang lain.
  • Tidak berdoa terlalu lama di jalur utama.
  • Tidak meninggalkan barang bawaan di lantai.
  • Tidak memotret orang yang sedang berdoa dari jarak dekat.
  • Menjaga suara agar tidak mengganggu jamaah lain.

Soal “tempat mustajab”

Beberapa jamaah datang dengan daftar panjang tempat yang harus didatangi. Daftar itu bisa membantu, tetapi jangan sampai ibadah berubah menjadi perburuan lokasi. Doa bisa dipanjatkan di mana saja di dalam Masjidil Haram.

Yang lebih menentukan adalah kekhusyukan, ketulusan, dan keyakinan bahwa Allah mendengar. Tempat hanyalah sarana.

Bila fisik terbatas

Lansia dan pengguna kursi roda tidak perlu memaksakan diri mendekat ke Multazam atau Hajar Aswad. Berdoa dari lantai atas atau dari area yang lebih longgar sama sahnya. Kesehatan dan keselamatan jamaah lain lebih utama.

Bila ingin mendekat, lakukan di luar jam padat dan bersama pendamping. Jangan memaksakan diri saat kerumunan sedang sangat rapat.