Daftar isi

Tawaf adalah tujuh putaran mengelilingi Ka'bah. Hitungan ini tampak sederhana, tetapi di tengah kerumunan dan kelelahan, banyak jamaah kehilangan hitungan. Akibatnya ada yang berhenti di putaran keenam atau justru menyelesaikan delapan putaran.

Artikel ini membahas hitungan tawaf dari sisi dalil, titik mulai, cara menghitung, hukum keraguan, dan kesalahan yang sering terjadi. Pembahasannya juga menyentuh ramal dan idtiba' karena keduanya sering dikaitkan dengan putaran tertentu.

1. Dalil Tujuh Putaran

Jumlah tujuh putaran diambil dari praktik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau tawaf tujuh kali mengelilingi Ka'bah, lalu shalat dua rakaat.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَافَ سَبْعًا
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tawaf tujuh kali.
HR. Bukhari dan Muslim, bab al-Hajj — terjemahan makna

Dalil kewajiban tawaf:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ
Dan hendaklah mereka melakukan tawaf di sekeliling rumah yang tua (Ka'bah).
QS. Al-Hajj: 29 — Terjemahan Kemenag RI

Ayat ini memerintahkan tawaf, sedangkan jumlah tujuh dijelaskan melalui praktik Nabi. Karena itu, tawaf kurang dari tujuh putaran tidak sah dan harus dilengkapi.

2. Arah dan Titik Mulai

Tawaf dimulai dari garis sejajar Hajar Aswad, dengan Ka'bah di sisi kiri. Satu putaran dihitung ketika jamaah kembali ke titik awal tersebut. Arahnya berlawanan dengan jarum jam.

Jangan memulai dari Maqam Ibrahim atau dari pintu tertentu. Titik mulai yang benar adalah garis lurus dari Hajar Aswad. Bila memulai dari tempat lain, putaran pertama belum dihitung sampai melewati Hajar Aswad.

3. Cara Menghitung

  • Mulai dengan takbir dan niat tawaf di garis Hajar Aswad.
  • Hitung satu putaran setiap kali kembali ke garis tersebut.
  • Gunakan penghitung sederhana, gelang, atau catatan di tangan.
  • Jangan menghitung berdasarkan jumlah lampu atau pintu.
  • Bila ragu antara dua angka, ambil yang lebih kecil.

Prinsip "ambil yang lebih kecil" berlaku bila keraguan muncul tanpa kepastian. Bila yakin sudah tujuh, hentikan tawaf. Bila ragu apakah enam atau tujuh, anggap enam dan lanjutkan satu putaran.

4. Hukum Keraguan

Keraguan dalam hitungan tawaf diselesaikan dengan membangun keyakinan pada angka yang lebih rendah. Ini adalah kaidah umum dalam ibadah yang berulang: bila ragu apakah sudah tiga atau empat, ambil tiga.

Bila keraguan terjadi setelah tawaf selesai dan jamaah sudah berpindah ke sa'i, sebagian ulama membolehkan melanjutkan tanpa mengulang, selama keyakinan awal sudah tujuh. Bila keraguan muncul sebelum selesai, lengkapi sampai yakin tujuh.

5. Perbandingan Empat Madzhab

PerkaraHanafiMalikiSyafi'iHanbali
Jumlah putaranTujuhTujuhTujuhTujuh
Titik mulaiHajar AswadHajar AswadHajar AswadHajar Aswad
Ragu hitunganAmbil yang lebih kecilAmbil yang lebih kecilAmbil yang lebih kecilAmbil yang lebih kecil
Tawaf kurang tujuhTidak sah, wajib lengkapTidak sah, wajib lengkapTidak sah, wajib lengkapTidak sah, wajib lengkap
Tawaf lebih tujuhTidak membatalkan, tetapi tidak disyariatkanTidak membatalkanTidak membatalkanTidak membatalkan

Empat madzhab sepakat pada jumlah tujuh dan titik mulai. Perbedaan muncul pada rincian hukum bila terjadi keraguan setelah tawaf selesai.

6. Ramal dan Idtiba'

Pada tiga putaran pertama, laki-laki yang mampu disunahkan melakukan ramal, yaitu berjalan cepat dengan langkah pendek, tanpa berlari dan tanpa mengganggu jamaah. Ramal tidak dilakukan perempuan dan tidak dilakukan bila kerumunan terlalu padat.

Idtiba', yaitu membiarkan pundak kanan terbuka dengan kain di pundak kiri, juga disunahkan bagi laki-laki selama tawaf. Keduanya sunah, bukan syarat sah. Bila tidak dilakukan, tawaf tetap sah.

7. Setelah Tujuh Putaran

Setelah tujuh putaran, jamaah menuju Maqam Ibrahim dan shalat dua rakaat bila memungkinkan. Bila area padat, shalat di tempat lain di Masjidil Haram tetap sah. Setelah itu, minum air zamzam dan menuju Bukit Shafa untuk sa'i.

Tidak perlu menyentuh Ka'bah atau berhenti di Multazam bila menyebabkan desakan. Menyentuh Ka'bah bukan syarat tawaf.

8. Penerapan bagi Jamaah Indonesia

  • Gunakan penghitung di tangan atau catatan kecil.
  • Jangan mengandalkan hafalan saat lelah.
  • Hitung dengan tenang, jangan terburu-buru mengikuti arus.
  • Bila ragu, ambil angka yang lebih kecil.
  • Jangan berhenti di jalur tawaf untuk menghitung ulang.
  • Catat waktu mulai dan selesai bila perlu.

9. Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Memulai tawaf dari Maqam Ibrahim.
  • Menghitung setengah putaran sebagai satu putaran.
  • Berhenti di putaran keenam karena kelelahan.
  • Melakukan delapan putaran karena lupa hitungan.
  • Menyentuh setiap sudut Ka'bah karena mengira bagian dari tawaf.
  • Berhenti berdoa panjang di jalur tawaf hingga menghalangi.

10. Kesimpulan

Tawaf adalah tujuh putaran, dimulai dan diakhiri di garis Hajar Aswad, dengan Ka'bah di sisi kiri. Hitung dengan alat bantu sederhana dan ambil angka yang lebih kecil bila ragu. Ramal dan idtiba' adalah sunah bagi laki-laki, bukan syarat sah. Jangan biarkan kelelahan mengubah hitungan yang menentukan keabsahan ibadah.

Pembahasan tentang tawaf ada di artikel Tawaf.

Daftar Rujukan

  • Al-Qur'an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI.
  • Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bab al-Hajj.
  • An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasik al-Hajj wa al-'Umrah.
  • An-Nawawi, Al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab, bab al-Tawaf.
  • Muhammad bin Qasim al-Ghazziy, Fathul Qarib al-Mujib.
Bagikan