Daftar isi

Penduduk Makkah memiliki kedudukan khusus dalam fiqih manasik. Mereka tidak perlu berihram dari miqat jauh seperti jamaah luar kota, tetapi juga tidak boleh memulai umroh baru dari dalam kota. Ada aturan tersendiri yang perlu dipahami.

Artikel ini membahas hukum umroh bagi penduduk Makkah dari sisi dalil, miqat, haji, umroh berulang, dan penerapannya.

1. Siapa yang Disebut Penduduk Makkah?

Penduduk Makkah adalah orang yang tinggal menetap di Makkah, baik asli maupun mukim dalam jangka panjang. Jamaah yang hanya menginap beberapa hari untuk umroh tidak termasuk penduduk Makkah, meskipun berada di kota itu.

Perbedaan ini penting karena miqat dan hukum haji mereka berbeda.

2. Dalil

Dalam hadis Aisyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan saudaranya mengantar Aisyah ke Tan'im untuk berihram. Aisyah saat itu berada di Makkah.

فَأَهَلَّتْ مِنْ تَنْعِيمٍ
Maka ia pun berihram dari Tan'im.
HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah — terjemahan makna

Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang berada di Makkah harus keluar ke tanah halal untuk memulai umroh baru. Ia tidak boleh berihram dari Masjidil Haram atau hotel.

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.
QS. Al-Baqarah: 196 — Terjemahan Kemenag RI

3. Miqat Penduduk Makkah

Miqat penduduk Makkah untuk umroh adalah tanah halal di luar batas haram. Tan'im adalah pilihan terdekat, sekitar tujuh kilometer dari Masjidil Haram. Alternatif lain adalah Ji'ranah dan Hudaibiyah.

Bila penduduk Makkah berihram dari dalam kota, umrohnya tetap sah menurut madzhab Syafi'i, tetapi ia berdosa dan wajib dam. Bila ia keluar ke tanah halal setelah ihram sebelum tawaf, dam gugur menurut sebagian ulama.

4. Haji Penduduk Makkah

Penduduk Makkah yang berhaji tidak melakukan tamattu' seperti jamaah luar kota. Mereka berhaji dengan ifrad atau qiran, tanpa dam tamattu'. Dam tamattu' hanya berlaku bagi orang yang menggabungkan umroh dan haji dalam satu perjalanan dengan cara tamattu'.

Penduduk Makkah boleh berumroh sebelum haji, tetapi tidak mendapat dam tamattu'. Mereka tetap bisa berumroh dari Tan'im bila ingin umroh baru.

5. Umroh Berulang

Penduduk Makkah boleh mengulang umroh, tetapi tidak dianjurkan berlebihan. Sebagian ulama memakruhkan menjadikannya kebiasaan yang memberatkan diri dan mengabaikan adab di Masjidil Haram. Umroh berulang bukan ibadah wajib dan tidak menjadi ukuran ketakwaan.

Bila ingin mengulang, keluar ke Tan'im atau Ji'ranah, berniat di sana, lalu kembali untuk tawaf. Jangan memulai dari dalam kota.

6. Perbandingan Empat Madzhab

PerkaraHanafiMalikiSyafi'iHanbali
Miqat penduduk Makkah untuk umrohDi luar tanah haramDi luar tanah haramDi luar tanah haramDi luar tanah haram
Berihram dari dalam MakkahUmroh sah, wajib damUmroh sah, wajib damUmroh sah, berdosa, wajib damUmroh sah, wajib dam
Haji penduduk MakkahIfrad atau qiranIfrad atau qiranIfrad atau qiranIfrad atau qiran
Umroh berulangBolehSebagian memakruhkan bila berlebihanBolehBoleh

Empat madzhab sepakat bahwa penduduk Makkah harus keluar ke tanah halal untuk umroh baru. Perbedaan muncul pada rincian dosa dan gugurnya dam.

5.1. Badal dan Umroh untuk Orang Lain

Penduduk Makkah boleh membadalkan orang lain setelah ia berumroh untuk dirinya sendiri. Miqatnya tetap di luar tanah haram, seperti Tan'im. Niat badal ditujukan untuk orang yang diwakili, bukan untuk dirinya.

Ia tidak boleh menggunakan dana zakat untuk membiayai badal. Bila ia belum berumroh untuk dirinya, tunda badal sampai syaratnya terpenuhi. Satu orang boleh membadalkan lebih dari satu orang, tetapi setiap badal memerlukan niat dan rangkaian tersendiri, bukan digabung dalam satu umroh. Pastikan pula orang yang dibadalkan benar-benar tidak mampu.

7. Penerapan bagi Penduduk dan Mukim

  • Keluar ke Tan'im atau Ji'ranah sebelum berniat.
  • Jangan berihram dari hotel atau Masjidil Haram.
  • Jangan melepas pakaian ihram saat perjalanan pulang.
  • Bagi yang berhaji, pahami perbedaan ifrad, qiran, dan tamattu'.
  • Jangan memaksakan umroh berulang hingga kelelahan.
  • Hormati jamaah lain di Masjidil Haram.

8. Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Berihram dari dalam Makkah untuk umroh baru.
  • Menganggap penduduk Makkah tidak perlu miqat.
  • Mengira penduduk Makkah mendapat dam tamattu'.
  • Berniat di jalan sebelum sampai Tan'im.
  • Melepas pakaian ihram saat perjalanan pulang.
  • Menganggap umroh berulang wajib bagi penduduk Makkah.

9. Kesimpulan

Penduduk Makkah yang ingin umroh harus keluar ke tanah halal, seperti Tan'im atau Ji'ranah, lalu berniat di sana. Berihram dari dalam kota melahirkan dosa dan dam. Dalam haji, mereka berhaji dengan ifrad atau qiran, bukan tamattu'. Umroh berulang boleh, tetapi tidak perlu dipaksakan.

Pembahasan tentang Tan'im ada di artikel Hukum Ihram dari Tan'im.

Daftar Rujukan

  • Al-Qur'an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI.
  • Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, bab al-Hajj.
  • An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasik al-Hajj wa al-'Umrah.
  • Ibnu Qudamah, Al-Mughni, bab al-Mawaqit wa al-Hajj.