Hukum Memakai Minyak Wangi pada Pakaian Ihram
Wangi-wangian pada kain ihram: dalil zafaran dan wars, cara membersihkan, serta fidyah menurut madzhab.
Daftar isi
Wangi-wangian pada badan sebelum ihram dianjurkan. Namun, wangi-wangian pada pakaian ihram berbeda. Hadis melarang pakaian yang terkena zafaran atau wars, dua bahan pewarna dan pengharum yang biasa dipakai pada kain. Larangan ini sering diabaikan karena jamaah hanya fokus pada parfum di badan.
Artikel ini membahas hukum wangi-wangian pada pakaian ihram dari sisi dalil, cara membersihkan, perbandingan madzhab, dan fidyahnya.
1. Perbedaan Wangi pada Badan dan Pakaian
Sebelum niat, jamaah dianjurkan memakai wangi-wangian pada badan. Setelah niat, jangan menambah parfum. Namun, pakaian ihram memiliki aturan tersendiri: kain yang sengaja diberi wangi tidak boleh dipakai.
Perbedaan ini penting karena kain menyerap wangi lebih lama daripada kulit. Wangi pada kain bisa bertahan berjam-jam dan mengenai kulit, sehingga lebih dekat kepada larangan.
2. Dalil
| وَلَا تَلْبَسُوا شَيْئًا مِنَ الثِّيَابِ مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ أَوِ الْوَرْسُ |
| Dan janganlah kamu memakai pakaian yang terkena zafaran atau wars. |
| HR. Bukhari no. 366 dan Muslim no. 1177 — terjemahan makna |
Zafaran dan wars adalah bahan yang memberi warna sekaligus wangi pada kain. Larangan ini menunjukkan bahwa pakaian ihram tidak boleh diberi wangi-wangian, meskipun wangi-wangian pada badan sebelum niat dibolehkan.
Dalil tentang wangi pada badan sebelum ihram:
| كُنْتُ أُطَيِّبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِإِحْرَامِهِ حِينَ يُحْرِمُ، وَلِحِلِّهِ قَبْلَ أَنْ يَطُوفَ بِالْبَيْتِ |
| Aku pernah memberi wangi-wangian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ihramnya ketika beliau berihram, dan untuk tahalulnya sebelum beliau tawaf di Ka'bah. |
| HR. Bukhari dan Muslim, dari Aisyah — terjemahan makna |
Hadis ini menunjukkan bahwa wangi pada badan sebelum niat dibolehkan, dan bekasnya tidak dianggap pelanggaran. Yang dilarang adalah menambahkan wangi pada pakaian setelah niat.
3. Bila Pakaian Sudah Berwangi
Bila kain ihram sudah terkena parfum sebelum niat, sebaiknya dicuci atau diganti sebelum berihram. Bila wanginya hanya samar dan tidak sengaja, sebagian ulama memaafkan. Namun, jangan sengaja menyemprotkan parfum ke kain setelah niat.
Cara mencuci: bilas dengan air bersih, gunakan sabun tanpa wangi, lalu keringkan. Hindari pelembut pakaian beraroma kuat karena wanginya bisa tertinggal.
4. Perbandingan Empat Madzhab
| Perkara | Hanafi | Maliki | Syafi'i | Hanbali |
|---|---|---|---|---|
| Wangi pada badan sebelum ihram | Boleh, bekasnya dimaafkan | Boleh, bekasnya dimaafkan | Boleh, bekasnya dimaafkan | Boleh, bekasnya dimaafkan |
| Wangi pada pakaian setelah ihram | Haram | Haram | Haram | Haram |
| Pakaian yang sudah berwangi sebelum niat | Sebbaiknya dicuci | Sebbaiknya dicuci | Sebbaiknya dicuci | Sebbaiknya dicuci |
| Fidyah bila sengaja | Dam atau fidyah | Fidyah | Fidyah: kambing, puasa tiga hari, atau makan enam orang miskin | Fidyah dengan pilihan yang sama |
Empat madzhab sepakat bahwa pakaian ihram tidak boleh diberi wangi. Perbedaan muncul pada bentuk tebusan dan kadar wangi yang dimaafkan.
5. Fidyah
Bila seseorang sengaja memakai pakaian yang diberi wangi setelah ihram, sebagian ulama menetapkan fidyah. Fidyahnya mengikuti larangan ihram: kambing, puasa tiga hari, atau memberi makan enam orang miskin.
| فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ |
| Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau ada gangguan di kepalanya, maka wajib atasnya fidyah, yaitu berpuasa, bersedekah, atau berkurban. |
| QS. Al-Baqarah: 196 — Terjemahan Kemenag RI |
Bila terjadi karena lupa atau tidak tahu, dosanya gugur, tetapi kewajiban fidyahnya perlu ditanyakan kepada pembimbing. Jangan menganggap fidyah dapat menggantikan kesengajaan.
6. Penerapan bagi Jamaah Indonesia
- Cuci kain ihram sebelum berangkat bila baru dibeli.
- Jangan menyemprotkan parfum ke kain ihram.
- Gunakan deterjen tanpa wangi saat mencuci.
- Simpan kain ihram terpisah dari pakaian berparfum.
- Jangan memakai pelembut pakaian beraroma kuat.
- Bawa kain cadangan bila kain utama terkena parfum.
7. Kesalahan yang Sering Terjadi
- Menyemprotkan parfum ke kain ihram.
- Mencuci kain dengan deterjen beraroma kuat lalu memakainya tanpa dibilas.
- Menganggap wangi pada kain sama dengan wangi pada badan.
- Memakai pakaian yang sebelumnya dipakai dengan parfum tanpa mencucinya.
- Menyimpan kain ihram di lemari beraroma kuat.
- Menganggap fidyah dapat menggantikan kesengajaan.
8. Kesimpulan
Pakaian ihram tidak boleh diberi wangi-wangian. Wangi pada badan sebelum niat boleh; setelah niat, jangan menambah. Cuci atau ganti kain yang sudah berwangi sebelum berihram. Yang menjadi patokan adalah adanya wangi yang sengaja dipakai pada kain, bukan sekadar bau samar dari lingkungan.
Pembahasan tentang parfum ada di artikel Hukum Memakai Parfum Saat Ihram.
Daftar Rujukan
- Al-Qur'an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI.
- Shahih al-Bukhari no. 366; Shahih Muslim no. 1177.
- Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, hadis Aisyah tentang wangi-wangian.
- An-Nawawi, Al-Idhah fi Manasik al-Hajj wa al-'Umrah.
- Ibnu Qudamah, Al-Mughni, bab Mahzhurat al-Ihram.